Evolusi Darwin (hipotesis darwin)

November 19, 2009 at 8:44 pm (Evolusi Darwin (hipotesis darwin))

Teori Evolusi Darwin (sebenarnya lebih pantas disebut hipotesis saja) selalu menarik untuk disimak. Bukan karena “The Origin of Species” membahas bahwa nenek moyang manusia itu keturunan monyet, atau bahwa mahluk tingkat tinggi itu berasal dari mahluk tingkat rendah atau kemampuan untuk survive di alam ini mempengaruhi bentuk kehidupan, leher jerapah semakin panjang, mahluk darat pindah ke air (atau sebaliknya), dan ada kesesuaian-kesesuaian tertentu antara mahluk hidup satu dengan lainnya dengan melihat bentuk tulang belulangnya (?)

Buat saya (yang juga begok), teori evolusi dengan mempercayai kepingan-kepingan tulang berjuta atau berabad yang lalu dengan mempercayai pada kemiripan bentuk, kesesuaian bentuk itu sudah tidak relevan lagi dengan pengetahuan genetika yang memerikan begitu tajam rincian genom manusia dan mahluk hidup lainnya. Kemiripan bentuk tidak relevan dijadikan ukuran. Kemiripan dna, kesamaan sekian-sekian persen juga sebenarnya tidak relevan. Peta genetika babi juga banyak kemiripannya dengan manusia, tapi tampilannya jelas beda, kecuali pada chu pat kai saja… si manusia babi yang jadi kawan sun go kong dalam “Perjalanan ke Barat”…..

Kenapa?

Ambil contoh, apa beda arang potlot dan intan, yang satu hitam legam yang satu cemerlang dan tembus pandang. Arang “tak berharga” senilai intan. Namun, kalau ditelusuri unsurnya, perbedaan hanya pada posisi molekulnya yang rapih dan kusut. Jelas perbedaan wujud fisik dan kekuatan tersebut tidak mewakili sebuah perbedaan mendasar dari atom-atomnya. Namun, setidaknya mengisyaratkan bahwa kesimpulan terhadap mahluk arang dan intan, tidak bisa dilihat dari sekedar perbedaan wujud fisik. Kemiripan pun, tidak mewakili sebuah persamaan ketika kita masuk ke kedalaman unsur-unsurnya. Apalagi melalui tahapan perubahan mahluk tingkat rendah ke tingkat tinggi.

Jadi jelas, wujud fisik itu, tidak mewakili penjelasan asal-usul. Harusnya jauh lebih ke dalam lagi untuk mendapatkan informasi asal usul.

Tapi, kenapa sains selalu berusaha mengajarkan “kebenaran” hipotesis Darwin.

Sebenarnya, kali saja, yang sebenarnya, ogah mengakui adanya penciptaan seketika. Artinya, mengakui keberadaan yang Maha Pencipta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: